Sehari Tanpa Nasi

Jejak Kabar dari Kampung, (ptppma.or.id)Panjang umur masyarakat adat suku Orya di Kampung Beneik, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura yang masih setia merawat tradisi dan relasi manusia dengan pangan sagu, rumah atap sagu, leluhur, tanah dan alam semesta. Serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang.

Perkumpulan terbatas untuk Pengkajian dan Pemberdayaan Masyararakat Adat (Pt.PPMA) Papua, melalui Program Voices for just Climate Action (VCA) atau Suara Aksi untuk Perubahan Iklim yang Berkeadilan, hendak mengunjungi Mama Naomi Sobor, pada 19 April 2024.

Saat itu kami Tim Program VCA – Pt.PPMA Papua parkir mobil di depan jalan umum Jayapura – Sarmi, setelah itu melangkah masuk menuju rumah Mama Naomi.

Rumah Mama Naomi bisa dibilang sangat nyaman, karena sedikit berjauhan dari perkampungan, dan dikelilingi dengan tanaman kebun seperti pisang, sayur daun gedi, sayur lilin dan beberapa tanaman hutan lainnya.

Rumah Mama Naomi Sobor di Kampung Beneik, Distrik Unurum Guay, kabupaten Jayapura, 19 April 2024. Gambar: Pt.PPMA Papua

Rumahnya juga sejuk dikarenakan menggunakan daun atap sebagai pengganti seng rumah. Dinding rumah dan alas lantainya menggunakan papan kayu. Alas lantai tersebut berbentuk panggung, kurang lebih setengah meter dari permukaan tanah.

Kami mengunjungi Mama Naomi, karena ia merupakan salah satu perempuan di Kampung Beneik yang terlibat dalam kelompok tani kebun pekarangan rumah, dampingan Program VCA – Pt.PPMA Papua.

Kunjungan yang kami lakukan ialah untuk mendengar perkembangan kebun pekarangan rumah milik Mama Naomi bersama tim kelompok lainnya.

Tim Program VCA – Pt.PPMA Papua, hendak berdiskusi dengan Mama Naomi Sobor di rumahnya, Kampung Beneik, 19 April 2024. Gambar: Pt.PPMA Papua.

Mama Naomi bercerita, kebun mereka masih dikelola dengan baik. Ia memiliki beberapa bedengan kebun rica yang sedang ia garap sendiri.

Sayur lilin, sayur kangkung cabut, bunga pepaya, dan beberapa jenis sayur-sayuran telah ia garap untuk konsumsi sehari-hari.

Kalau ada acara ibadah atau perayaan lainnya di kampung Beneik, biasanya hasil kebun tersebut ia sumbangkan sebagai bantuan untuk kebutuhan konsumsi kegiatan.

selain itu, hasil kebunnya juga biasa ia kelola untuk dijual, demi pemenuhan kebutuhan sembako rumah tangga.

“Kalau sekali jual biasa dapat 200 (Dua ratus ribuh rupiah), lumayan bisa beli gula, kopi, sabun, dan kebutuhan lain,“ Ucap Naomi Sobor ke Tim Program VCA – Pt.PPMA Papua.

Ia juga bercerita bahwa ada beberapa masyarakat di Kampung Beneik, terutama masyarakat non-Papua sering kali datang ke rumahnya untuk membeli sayur dan rica. Mereka membeli di kebun rumahnya, karena ia biasanya menggunakan media sosial facebook untuk berjualan.

“Mereka biasa lihat sa posting sayur jualan di facebook, jadi mereka sendiri yang datang baru beli di tempat,“ Ucap Naomi Sobor.

Tim Program VCA – Pt.PPMA Papua, hendak berpose bersama Mama Naomi Sobor di depan Pondok jualannya di Kampung Beneik, 19 April 2024. Gambar: Pt.PPMA Papua.

Usai diskusi dengan Mama Naomi, Tim VCA – Pt.PPMA Papua pun bergegas ke rumah Sekretaris Kampung Beneik dan melanjutkan perjalanan balik ke Kota Jayapura. Sebelum jalan, tim diberi pisang nona 2 tandang, pisang pandawaka kecil satu tandang, dan sagu satu tumang (potongan) yang di isi menggunakan karung beras ukuran 20 kg.

Pangan yang ia berikan kepada tim, merupakan hasil dari hutan sagu dan kebun yang ia kelola, bersama keluarganya untuk pemenuhan makan sehari-hari.

“Pisang ini setiap hari ada saja di kebun, banyak, jadi kam (kalian) bawa sudah yang ini,” Ucap Naomi. Selain itu, sagu yang ia beri ke tim, adalah sagu yang ia tokok untuk kebutuhan sehari-hari, dan juga untuk dijual.

Pemberian hasil kebun berupa pisang dan sagu dari Mama Naomi Sobor ke tim Program VCA – Pt.PPMA Papua, Beneik, 19 April 2024. Gambar: Pt.PPMA Papua

Pemberian Mama Naomi Sobor, memberi pesan dan kesadaran yang kuat bahwa masyarakat adat Papua di kampung-kampung itu bisa hidup tanpa nasi atau sehari tanpa nasi. Karena mereka tidak semuanya tergantung pada beras yang harus dibeli dengan harga yang cukup tinggi.

Hal ini sehingga politik RASKIN (beras miskin) dari bantuan pemerintah, yang telah menciptakan ketergantungan pada beras. Bisa kita lawan seperti apa yang sudah Mama Naomi Sobor praktekan, yaitu, hidup dari pangan lokal secara mandiri.

Caranya sederhana: Menjaga hutan, mengelola hutan sagu dengan budaya meramu, mengelola tanah untuk budidaya kebun sayur-mayur, serta menghasilkan uang dari sana tanpa harus menjual tanah atau hutan adat.

 

 

 

Bagikan: