Kebun Pekarangan, Solusi Adaptasi Perubahan Iklim dan Potensi Ekonomi bagi Masyarakat Adat

Jejak Kabar dari Kampung, (ptppma.or.id) – Maraknya investasi lahan sawit di Tanah Papua telah berdampak langsung pada alih fungsi lahan yang besar. Hutan yang digantikan dengan sawit, dapat menyebabkan hilangnya ruang hidup masyarakat adat yang masih bergantung pada alam, hingga berdampak langsung pada persoalan pemenuhan pangan dan bencana perubahan iklim bagi kelompok masyarakat rentang.

Di Kampung Garusa, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, lahan adat telah berubah menjadi area perusahaan sawit. Sebagian besar hutan telah dikuasai oleh perusahaan PT. Rimba Matoa Lestari (PT. RML). Sebagai gantinya, masyarakat akan mendapatkan uang plasma dari perusahaan yang diterima setiap beberapa bulan sekali. Namun hal ini justru menghilangkan kebiasaan masyarakat yang hidup bergantung pada hutan (berburu dan meramu), hampir sepenuhnya beralih pada uang.

Untuk mendapatkan uang, masyarakat harus bekerja sebagai buruh sawit. Namun pembayaran gaji perbulan belum mencukupi tuntutan kebutuhan rumah tangga, karena kebutuhan ekonomi terus meningkat. [Selain menajdi buru sawit, masyarakat juga ada yang berpenghasilan dari pendapatan kerja sebagai  TNI, Polri, PNS, tenaga honorer, berdagang dari hasil buruan dan meramu, serta pekerjaan buru kasar lainnya ketika ada proyek dari pendanaan pemerintahan setempat].

David Sobor, salah satu warga Kampung Garusa yang bekerja sebagai tenaga buru Perusahaan Sawit di PT. RML, berkisah, kalau hasil gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Sehingga ia harus menggarap bekas kebun lama miliknya untuk pemenuhan pangan sehari-hari.

Namun di usianya yang tidak lagi muda, serta lokasi lahan kebun lama yang cukup jauh dari areal pemukiman dan selalu gagal panen akibat banjir, karena lahan kebun lamanya yang berada di wilayah dataran rendah. Akhirnya lahan-lahan kosong di areal rumahnya, ia manfaatkan sebagai lahan budidaya kebun pekarangan.

Hasil kebun pekarangan yang ia garap, ia peroleh untuk pemenuhan pangan sehari-hari. Selain itu, ada juga yang ia jual untuk penghasilan tambahan. Sayur sawi, kangkung cabut, kacang panjang, ketimun, rica, tomat, gedi, daun pepaya, bunga pepaya, buah pepaya, pisang dan sayur daun singkong adalah hasil kebun yang biasa ia jual.

Bapak David Sobor hendak menjual Sayur menggunakan motor pribadinya di Kampung Garusa, 14 April 2024.

Ia biasanya berjualan sayur di pondok jualan depan rumah, dan ada juga yang ia jual keliling sepanjang kampung Garusa dengan menggunakan motor pribadinya. Pendapatan rata-rata perhari yang biasa ia dapatkan, berkisar di atas 200 ribu lebih.

“Sa (saya) selalu jual sayur keliling pake (pakai) motor di Kampung ini. Hasil jualan, sa pake beli kebutuhan sehari-hai, …beli gula, kopi, rokok dan tabungan untuk anak-anak yang sekolah,” Ucap David Sobor saat di wawancarai di rumahnya, Garusa, 28 Februari 2024.

Tambahnya, “Kalau tidak bikin (buat) kebun, tidak jualan, itu mau dapat uang dari mana ?” Kita harap-harap ke perusahan, ke pemerintah, tidak mungkin, susah, …saya harus berusaha sendiri seperti ini baru bisa dapat uang tambahan.”

Ide menggarap lahan kosong menjadi kebun pekarangan hingga bernilai eknomis, bukan terjadi begitu saja di ruang kosong. Melainkan bermula dari keterlibatan dirinya saat mengikuti pelatihan hukum kritis dan diskusi tematik, yang diadakan oleh Pt.PPMA Papua, kerja sama Mitra Program Voices for just Climate Action (VCA) atau Suara Aksi untuk Perubahan Iklim yang Berkeadilan.

Kegiatan Pelatihan Hukum Kritis bagi Pralegal itu, ia ikut pada akhir bulan Agustus 2022 di Kota Jayapura. Dan terlibat dalam kegiatan forum grup diskusi tematik “Selamatkan Manusia, Tanah dan Sumber Daya Alam Papua, yang diadakan di Kampung Garusa, 7 November 2022.

Selain itu, ia juga terlibat menjadi bagian dari kelompok tani, kebun budidaya pekarangan rumah yang diadakan juga dari Program kerja VCA – Pt.PPMA Papua pada tahun 2023.

Dari semua kegiatan yang sudah ia terlibat, ia pun menyimpulkan bahwa cara menjaga tanah Papua dari berbagai kepentingan, adalah dengan mengelola tanah untuk mempertahankan hidup, dan bukan menjual tanah karena tidak berdaya.

“Tanah ini harus kita jaga, kita kelolah dia baik baik, biar kita makan dan minum dari tanah ini. Kalau kita jual, sama saja kita bunuh diri, …jual hidup namanya, ujung-ujungnya kita sendiri yang menderita di negeri kita sendiri,” ucap Bapak David Sobor.

Tim Program VCA – Pt.PPMA Papua bersama Bapak David Sobor di Kebun Pekarangan Rumahnya, Garusa, 18 April 2024. Gambar: Pt.PPMA Papua.

Sampai saat ini, Bapak David masih menggarap lahan kebun pekarangan dan terus melakukan aktivitas sebagai penjual sayur di Kampung Garusa. Karena sudah menjadi penjual sayur, namanya disebut oleh warga bukan lagi Bapak David, tetapi Mas Daso (David Sobor).

Kini cerita dari Bapak David Sobor, dapat memberi pembelajaran bagi kita tentang bagaimana mendapatkan uang dari hasil kelola tanah. Selain itu, kita juga belajar bahwa menggarap lahan kosong di rumah menjadi kebun pekarangan, adalah upaya adaptasi perubahan iklim dan potensi ekonomi bagi masyarakat adat Papua [dari dampak  alih fungsi lahan yang dikuasai oleh maraknya investasi].

Bagikan: